kebudaaan MINAHASA





KEBUDAYAAN MINAHASA
Dosen  Pengampu: Priscilla Titis Indiarti, S.Psi, M.Si




Di susun oleh:
1.      Gracelia Yossefine A.G.         ( 13048 / IB / 15 )
2.      Nindya Aryantika                   ( 13054 / IB / 20 )
3.      Nufidhoh Yuliyanti                 ( 13058 / IB / 24 )






PRODI DIII  KEBIDANAN
AKADEMI KEBIDANAN PANTI WILASA
SEMARANG
2013
 


KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya lah maka kami boleh menyelesaikan sebuah tugas makalah dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "KEBUDAYAAN MINAHASA", yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari sejarah perkembangan kebudayaan di daerah Minahasa.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggu perasaan pembaca.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.


Semarang,       Oktober 2013

"Penulis"

                                     DAFTAR ISI      

KATA PENGANTAR…………………………………………………….....………………………… i
DAFTAR ISI…………………………………………………….……………….…………………......... ii
BAB I  : Pendahuluan
A  Latar Belakang…………………………..…………………...………………………..….. 1
B  Tujuan………………………....…………………….......…................................... 1
BAB II : PEMBAHASAN
A  Identifikasi................................……………..………….............................. 2
B  Data Kependudukan dan Desa...……………...….................................... 2
C  Ekonomi………………………………………………....…..................................... 6
D  Kekerabatan...................................................................................... 9
E  Solidaritas dan kerukunan…………………………………....……………………… 11
F  Religi Pribumi……………………………………….………………………………………. 12
G  Orientasi kognitif dan masalah kemajuan........................................ 15
BAB III : Penutup
              A  Kesimpulan……………..…..……....………………………...………………………….. 17
              B  Saran………………………..…………………………………………………………………. 17
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
Kebudayaan merupakan salah satu aspek penting dalam hidup manusia. Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak kebudayaan, etnik dan bahasa. Karya tulis ini secara keseluruhan membahas tentang Minahasa. Salah satu kabupaten di wilayah Sulawesi Utara ini, mempunyai banyak sekali cerita masa lalu yang menarik dan unik. Juga sejarah dan berbagai ritual yang menjadi cirri khas dan tradisi mereka. Di sini juga kami membahas tentang kependudukan, ekonomi, kekerabatan, solidaritas dan kerukunan, religi dan orientas kognitif dan kemajuan masyarakat Minahasa.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa identifikasi yang berkaitan tentang daerah Minahasa itu ?
2.      Bagaimana data kependudukan di daerah Minahasa ?
3.      Bagaimana perekonomian di Minahasa diberbagai bidang ?
4.      Bagaimana kekerabatan di daerah Minahasa ?
5.      Seperti apa solidaritas dan kerukunan orang – orang di Minahasa ?
6.      Apa religi yang dianut oleh masyarakat di Minahasa ?
7.      Bagaimana orientasi kognitif dan masalah kemajuan di Minahasa ?
C.     TUJUAN
1.      Mengetahui identifikasi kebudayaan di Minahasa
2.      Mengetahui data kependudukan di Minahasa
3.      Mengetahui perekonomian di Minahasa
4.      Mengidentifikasi tentang kekerabatan di Minahasa
5.      Mengetahui solidaritas dan kerukunan di Minahasa
6.      Mengidentifikasi religi di Minahasa
7.      Mengetahui orientasi kognitif dan masalah kemajuan di Minahasa
                                               

BAB II
PEMBAHASAN

A.    IDENTIFIKASI
Ucapan umum orang Minahasa menyebut diri mereka orang Manado atau Touwenang (orang Wenang), orang Minahasa atau Kawanua. Tetangga - tetangga di sebelah utara adalah orang Sangir dan Talaud, di sebelah selatan adalah orang Bolaang Mongondow.
Orang Minahasa dibagi ke dalam delapan kelompok subetnik, yaitu :
a)      Tounsea
b)      Toumbulu
c)      Tountemboan
d)      Toulour
e)      Tounsawang
f)       Pasan
g)      Ponosakan
h)      Bantik
Setiap kelompok subetnik ini memiliki bahasa sendiri yang disebut dg nama subetnik itu sendiri. Secara umum Melayu Manado adalah sebagai bahasa ibu.

B.    DATA KEPENDUDUKAN DAN DESA
Sekarang ini yang dianggap wilayah etnik orang Minahasa yang terdiri dari delapan kelompok subetnik tersebut di atas, terbagi pada tiga wilayah administrasi pemerintahan, yaitu kabupaten Minahasa, Kota Madya Manado, dan Kota Madya Bitung.


Tabel IX
Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Radio Seks
Provinsi Sulawesi Utara Akhir Tahun 1983
Kabupaten/Kota Madya
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Radio Seks
Minahasa
354.633
349.481
704.114
101,47
Gorontalo
266.408
267.879
534.287
99,45
Bolaang Monondow
163.775
158.008
321.789
103,65
Sangihe Talaud
121.726
121.294
243.020
100,36
Manado
110.156
109.679
219.835
100,43
Gorontalo
48.036
52.664
100.700
91,21
Bitung
43.167
40.908
84.075
105,52
Jumlah           
1.107.901
1.099.913
2.207.814
100,73
Sumber: Provinsi Sulawesi Utara, Kantor Statistik (1984:43)
TABEL X
Penduduk Kabupaten Minahasa
Kota Madya Manado, dan Kota Madya Bitung
Provinsi Sulawesi Utara Akhir Tahun 1983

Kabupaten/Kota Madya
Jumlah Penduduk
Minahasa (Kabupaten)
704.114
Manado (Kota Madya)
219.835
Bitung (Kota Madya)
84.075
Jumlah
1.008.024
Sumber: Provinsi Sulawesi Utara, Kantor Statistik (1984:43)
                                                             
                 Dari ketujuh wilayah pemerintahan di Provinsi Sulawesi Utara (empat kabupaten dan tiga kota madya), seperti terlihat pada tabel IX                 untuk keadaan tahun 1983, jumlah penduduk kabupaten Minahasa adalah yang terbesar (704.114) menyusul berturut-turut Kabupaten Gorontalo, Bolaang Mongondow dan Sangihe Talaud.
                 Untuk tingkat kota madya, jumlah penduduk Kota Madya Manado adalah yang trebesar (219.835), menyusul kota madya Gorontalo dan Bitung. Jumlah keseluruhan penduduk ketiga wilayah etnik Minahasa ini adalah 1.008.024
(lihat table X).
                 Kota Minahasa mempunyai 468 desa (kampong) yang dipimpin oleh seorang kepala desa yang secara adat disebut Hukum Tua (kuntua). Dewasa ini administrasi desa diubah menjadi kelurahan dan dipimpin oleh kepala desa atau lurah. Di Minahasa terdapat 27 kecamatan.
                 Suatu masyarakat pedesaan dapat pula merupakan suatu kelompok dari beberapa desa. Masyarakat seperti itu memperlihatkan cirri-ciri kesatuan adat tertentu dan seringkali memiliki suatu bahasa tersendiri.
Pola perkampungan desa Minahasa bersifat menetap, dalam arti bahwa suatu desa cenderung tidak berkurang penduduknya karena ditinggalkan akibat ladang-ladang yang makin jauh.
                 Pola desa di Minahasa ialah kelompok rumah-rumah itu mempunyai bentuk memanjang mengikuti jalan raya. Desa yang mulai menjadi besar, pada sebelah menyebelah jalan raya dihubungkan dengan jalan-jalan samping untuk masuk lebih ke dalam. Namun, jalan raya tetap sebagai urat nadi desa dan sepanjang itu terletak pusat-pusat aktifitas desa seperti gereja, pasar, kantor polisi, toko-toko, warung-warung, dan sebagainya. Kelancaran berkomunikasi antar desa terutama  untuk jarak-jarak yang agak jauh banyak di tentukan oleh
kendaraan-kendaraan seperti bus kecil dan kendaraan bermotorlainnya, namun demikian ini hanya terbatas jalan-jalan yang baik. Di desa yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor maka gerobak
yang di tarik oleh sapi atau gerobak yang lebih kecil oleh kuda menjadi alat pengangkut pokok.
                 Bentuk rumah orang Minahasa sekarang telah banyak berbeda dari bentuk-bentuk rumah kuno, walaupun masih juga terlihat adanya unsure-unsur yang khas. Unsure-unsur khas yang dimaksud antara lain adalah lantai rumah yang berada di atas tiang-tiang yang tingginya sampai 2,5 meter. Tiang-tiang tersebut dibuat dari kayu (balak) maupuin batu kapur. Ruangan depan yang biasanya selebar rumah di mana terdapat sebuah atau dua buah tangga tidak berdinding tetapi dikelilingi dengan regel setinggi kurang lebih 1 meter dengan terali-terali dari kayu yang berukir secara sederhana. Biasanya di atas regel diletakkan gerabah-gerabah bertanah yang ditanami berbagai tanaman kembang atau tanaman hias lainnya. Dapat juga ditemukan tiang-tiang dalam ruangan itu yang dihiasi dengan ukiran-ukiran sederhana.
                 Sebuah rumah biasanya dibagi dua oleh gang pada bagian tengah. Sepanjang gang itu terletak kamar-kamar di kedua sisinya. Bagian bawah rumah atau kolong rumah, biasanya dipaka sebagai gudang kalau dibri dinding, atau pula sebagai kamar, atau tempat gerobak dan alat-alat pertanian. Rumah yang biasanya berbentuk persegi panjang itu, beratapkan daun rumbia atau seng. Genteng tidak dikenal di Minahasa.selain dari bangunan induk itu, suatu rumah juga mempunyai bangunan-bangunan tambahan pada bagian belakang atau samping, yang dipakai untuk dapur dan lain-lain. Tidak setiap rumah mempunyai sumur. Mereka yang tidak mempunyai sumur mengambil air dari mata air dengan bambu atau dari sumur tetangga. Umumnya, setiap rumah tangga memiliki jamban; namun demikian, apa yang terlihat pada penduduk pedesaan pada umumnya belum sesuai denga persyaratan sanitasi lingkungan.
                 Adapun bentuk ruma seseorang di dalam desa dapat menentukan pula apakah ia golongan orang kaya atau tidak. Biasanyaorang yang berada membuat
rumah dari bahan-bahan yang lebih mahal, misalnya seng untuk atap, kaca untuk isi jendela, sedangkan jenis-jenis kayu yang dipakai adalah dari jenis yang baik seperti cempaka, wasian bahkan lingua yang terkenal sebagai kayu terbaik. Rumah seperti irtu di kalangan penduduk desa disebut rmah seng atau rumah kaca. Dulu rumah-rumah tradisional selalu ducat putih, dengan menggunakan tanah kapur sebagai bahan catnya.
Orang Minahasa adalah suatu suku bangsa yang ada di bagian timur laut Sulawesi Utara. Luas daerah ini, termasuk kota-kota Manado dan Bitung <6000 km2. Dalam

C.     EKONOMI
            Ekonomi pedesaan sebagai suatu aspek yang mengandung ciri – ciri perilaku “petani” Minahasa tentu bukan padanan istilah ekonomi nasional. Ekonomi pedesaan merupakan suatu kompleks pengetahuan, kepercayaan, nilai dan norma yang terwujud sebagai pranata – pranata sosial yang mengatur proses dan mekanisme produksi, distribusi dan konsumsi yang diturunkan secara antargenerasional yang dipengaruhi oleh ekonomi nasional, perubahan sosialbudaya umum dan perubahan – perubahan ekologis dalam lingkungan sumber ekonomi.
            Di Minahasa, jaringan jalan raya yang tergolong baik, serta adanya pelabuhan Bitung dan bandar udara Sam Ratulangi, adanya industri – industri kecil, toko – toko besar, toko – toko besar dan kecil – kecil di kota – kota dan ekonomi modern lainnya memang secara erat berhubungan dengan dan sangat mempengaruhi ekonomi pedesaan yang berpangkal pada sektor pertanian rakyat yang masih tergolong tradisional. Ekonomi pedesaan di Minahasa mempunyai bentuk tersendiri yang menunjukan adanya perbedaan dari masyaraka
pedesaan lainnya, seperti Sangir, Gorontalo, Bolaang Mongondow, Jawa, Bali, dan sebagainya.
Berbagai sarana prasana dan pranata ekonomi di Minahasa sekarang mengalami perkembangan, jauh berbeda dari masa – masa sebelumnya. Jalan – jalan dan jembatan dan pengangkutan darat telah cukup berkembang, menyebabkan tidak ada lagi desa – desa yang memiliki peranan ekonomis yang berarti yang masih terisolasi. Sekalipun desa – desa yang secara ekonomis tergolong tidak penting dengan jaringan jalan yang tidak beraspal namun dapt dijangkau dengan kendaraan umum. Sekarang, desa – desa terpencil yang hanya dapat dicapai dengan gerobak (roda sapi dan roda kuda) sangat terbatas jumlahnya. Selain kemajuan sarana dan prasana pengangkutan darat, bandar udara Sam Ratulangi dan pelabuhan samudra Bitung terus mengalami pengembangan dan peningkatan daya tampung pemakai – pemakainya maupin bagi berbagai kegiatan ekonomi, langsung maupun tidak langsung.
            Kebutuhan masyarakat akan kebutuhan listrik dapat dipenuhi dengan adanya pembangkit listrik tenaga air yang baru pada sungai Tandano di desa Tanggari selain pembangkit listrik tenaga air terjun di Tonsea Lama yang sudah dibangun sejak sebelum perang dunia ke II, yang akan menyebabkan peningkatan pertumbuhan berbagai industri dan kegiatan ekonomi lainnya. Demikian pula pusat pendayagunaan panas bumi seperti yang terdapat di Lahedong sekarang sedang dalam proses perampungan.
            Dalam sektor pertanian sejak masa sebelum perang dunia II berkembang perkembangan perkebunan rakyat tanaman – tanaman industri terutama kelapa, cengkeh, kopi dan pala. Sekaranhg perkebunan – perkebunan ini terus mengalami peningkatan instensifikasi dan ekstensifikasi dengan menggunakan metode dan teknologi pertanian  modern. Akhir – akhir ini komoditi pertanian
lain seperti coklat, vanili, jahe putih, dan jambu mete mulai digiatkan secara instensif juga dengan metode dan teknologi pertanian modern.
Persawahan menunjukan pula adanya gejala perkembangan dalam upaya peningkatan produksi padi. Perbaikan dan pembangunan irigasi penggunaan pupuk dan bibit unggul adalah beberapa contoh dari perkembangan yang dimaksud.
Perladangan menetap tradisional (kebun kering) yang umum di Minahasa ialah perladangan jagung, umumnya untuk konsumsi petani itu sendiri.  Biasanya petani menanam pula dalam kebun jagung dengan berbagai jenis sayuran, tanaman bumbu masakan sehari – hari dan buah – buahan untuk konsumsi sendiri.
            Selain pengembangan perikanan laut yang dilaksanakan oleh perikani yang berpusat di Aertembaga, terutama penangkapan dan pengolahan cakalang, nelayan – nelayan tradisional meningkatkan produksi berbagai jenis ikan dan binatang laut dengan menggunakan alat – alat yang lebih baik maupun dengan menggunakan alat – alat yang lebih baik maupun dengan apa yang disebut “motorisasi” perahu penangkapan ikan. Di desa – desa sekeliling danau Tondano ada segolongan penduduk yang khusus menjalankan kegiatan menangkap ikan dan binatang danau.
            Hutan sebagai sumber energi maupun materi untuk berbagai kebutuhan penduduk. Berbagai jenis bahan makanan (binatang dan tumbuhan) kebutuhan sehari – hari maupun pesta bersumber di hutan. Jenis binatang yang umum dimakan ialah babi hutan, tikus hutan dan kalong. Jenis tumbuh – tumbuhan yang dibuat untuk bahan makanan yang memenuhi kebutuhan sayur – sayuran yang sering dikonsumsi terutama fungi, rebung dan pakis. Dan hutan juga menghasilkan buah – buahan seperti mangga, pakoba dan kemiri. Selain itu, enau merupakan sumber nira sebagai minuman yang terkenal di Minahasa (disebut saguer), maupun gula merah. (tumbuhan ini tumbuh di hutan maupun kebun).     
Hutan dan lingkungan – lingkungan fisik lainnya merupakan tempat bertumbuhnya tumbuhan – tumbuhan yang memberi bahan – bahan untuk berbagai kebutuhan umum seperti rotan, kayu bakar, daun rumbia (bahan atap rumah). Sayang sekali luas hutan di Minahasa makin berkurang, terutama karena ekstensifikasi perkebunan cengkeh yang dilakukan oleh penduduk desa maupun penduduk kota.
D.    KEKERABATAN
            Pada umumnya orang Minahasa membenarkan kebebasan orang untuk menentukan jodohnya sendiri, walaupun dulu katanya dikenal juga penentuan jodoh atas kemauan orang tua sekalipun yang bersangkutan belum saling kenal mengenal.
            Sesudah nikah ideal pengantin baru tinggal menurun aturan neolokal (tumampas) pada tempat kediaman yang baru dan tidak mengelompok sekitar tempat kediaman kerabat si suami maupun si isteri.  Dalam kenyataan, adat neolokal ini tidak lagi diharuskan, rumah tangga (sangu awu, satu dapur) baru dapat ditinggal dalam lingkungan kekerabatan pihak suami maupun pihak isteri sanpai mereka memperoleh rumah sendiri.
            Bentuk rumah tangga pada orang Minahasa dapat terdiri dari hanya satu keluarga batih tetapi dapat pula lebih. Suatu rumah tangga yang memiliki lebih dari satu keluarga batih dapat terjadi bilamana sesudah perkawinan, rumah tangga baru ini tinggal bersama dengan salah satu orang tua mereka. Bentuk rumah tangga lainnya adalah seperti apa yang dilukiskan oleh padtbrugge yang terdapat beberapa abad yang lalu yaitu rumah famili besar yang didiami oleh enam sampai sembilan keluarga batih, masing – masing sebagai rumah tangga tersendiri karena masing – masing keluarga batih itu memiliki dapurnya sendiri.
            Batas – batas dari hubungan kekerabatan yang terdapat pada orang Minahasa ditentukan oleh prinsip keturunan bilateral, dimana hubungan kekerabatan ditentukan berdasarkan garis keturunan pria maupun wanita.
Pada zaman dahulu dikenal suatu kelompok kekerabatan keluarga luas yang tingggal pada sebuah rumah besar yang rupa – rupanya mengenal adat menetap sesudah nikah yang utrolokal. Sekarang keluarga luas itu tidak ada lagi. Kelompok kekerabatan yang penting yang terdapat sekarang ini dengan prinsip keturunan tersebut di atas tadi disebut teranak atau yang lebih lazim disebut famili.
Suatu kelompok yang dalam antropologi biasanya disebut kindred. Kelompok ini sering disebut juga patuari, sekalipun istilah ini dipakai juga untuk hubungan – hubungan kekerabatan lebih luas yang tidak mempunyai fungsi kekerabatan apa – apa lagi.
Identitas hubungan kekerabatan seorang dalam kelompok famili ialah nama famili yang disebut fam. Akan timbul suatu masalah identitas famili yang disebut hilang fam, bila sepasang suami – isteri tidak memiliki anak laki – laki akan mendukung fam ayah mereka.
Masalah lain yang sangat erat berhubungan dengan batas – batas hubungan kekerabatan bilateral itu adalah penurunan warisan yang terdiri dari semua harta milik yang diperoleh oleh suami isteri sebagai warisan dari orang – orang tua mereka masing – masing, ditambah dengan harta yang mereka peroleh bersama selama berumah tangga. Benda – benda warisan yang belum dapat atau
                                                                                                                                11
tidak dapat dibagi lagi, penggunaannya secara berganti – ganti atau bergiliran yang diatur oleh saudara laki – laki yang tertua.
E.     SOLIDARITAS DAN KERUKUNAN
            Dalam menghadapi hal – hal yang penting seperti kematian dengan serangkaian upacara perkabungan dan penghiburan, perkawinan, dan perayaan – perayaan lainnya, serta dalam mengerjakan berbagai pekerjaan pertanian dan kepentingan rumah tangga maupun komunitas, tampak adanya gejala solidaritas berupa bantu – membantu dan kerja sama, terutama didasarkan pada prinsip resiprositas. Kegiatan bantu – membantu dan kerja sama seperti ini disebut Mapalus.
            Suatu bantuan yang diberikan dalam suatu kegiatan, berupa tenaga, barang – barang, ataupun uang, bersama – sama dalam bentuk penghormatan dan penghargaan, selalu harus disadari dan diberikan balasannya.
            Aktivitas -  aktivitas kerja sama dan bantu – membantu dapat terjadi dalam suatu komunitas dalam memenuhi beberapa kebutuhan penting. Seorang yang mengalami kedukaan walaupun pada saat itu ia tidak memiliki uang untuk mengongkosi semua kebutuhan, namun orang – orang lain dalam lingkungan sosialnya akan memberikan bantuan. Kewajibannya di kemudian hari ialah berusaha memberikan pula bantuan kepada setiap orang yang pernah membantunya yang mengalami peristiwa yang sama.
            Variasi mapalus sebagai suatu pranata sosial tradisional yang penting adalah sangat besar. Kelompok mapalus dapat dibentuk berdasarkan pada kepentingan bersama oleh sejumlah individu yang bersedia bekerja sama atas dasar prinsip resiprositas yang dalam pelaksanaannya terorganisasi sebagai kegiatan dalam bentuk perkumpulan – perkumpulan (kumpulan).
                                                                                                                                 12
            Perkumpulan dapat pula terjadi di kalangan orang – orang yang setempat asal seperti desa, kecamatan atau bekas distrik dahulu (walak atau pakasa’an), tetapi yang lahir diluar lingkungan itu seperti banyak terlihat dikota Manado dankota – kota lainnya diluar wilayah Minahasa. Bahkan untuk kota – kota tersebut ada organisasi besar untuk seluruh masyarakat Minahasa (organisasi kawanua), antara lain menjalankan berbagai kegiatan tolong – menolong.
            Kala dahulu pranata mapalus banyak ditujukan pada saling membantu dalam pekerjaan pertanian dari suatu kelompok yang berjumlah sekitar 20 orang, dengan prinsip timbal balik (disebut juga ma’ando), maka sekarang di bentuk – bentuk variasi seperti tersebut diatas yang disebut juga mapalus.
            Mapalus dalam arti umum seperti yang terdapat dahulu seperti dapat disebutkan sebagai suatu bentuk kerja sama atau bantu – membantu dari jumlah orang sekampung dalam bentuk suatu kelompok yang relatif kecil (sekitar 20 orang) yang mempunyai kepentingan yang sama dan yang dipenuhi secara bergiliran atas dasar derajat yang sama, yang diatur dengan suatu sistem adat untuk menjamin kelancaran dan tercapainya kepentingan anggota –anggota yang bersangkutan. Setiap kelompok mapalus dipimpin oleh seorang ketua, dahulu disebut tu’a im palus.
F.     RELIGI PRIBUMI
            Kepercayaan peribumi yang dapat disaksikan orang minahasa, yang sekarang secara resmi telah memeluk agam protestan, katolik maupun islam, merupakan peninggalan sistem religi jaman dahulu sebelum berkembangnya agama kristen. Unsur-unsur pribumi terlihat dalam beberapa upacara adat yang dilakukan orang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa sekitar lingkaran hidup individu, seperti masa hamil, kelahiran, perkawinan, kematian, maupun dalam benetuk-bentuk pemberian kekuatan gaib dalam menghadapi berbagai jenis bahaya yang dapat menimpa seseorang maupun sekuluruh rumah tangga , serta yang berhubungan dengan pekerjaan-pekerjaan mata pencaharian. Unsur ini tentu juga tampak dalam wujud sebagai kedukunan yang sampai sekarang masih hidup.
Dunia gaib sekitar manusia dianggap didiami oleh makhluk-makhluk halus seperti roh-roh leluhur yang baik maupun yang jahat, hantu-hantu dan kekuatan-kekuatan yang lainya. Bertujuan supaya hidup mereka tidak diganggu , sebaliknya dapat dibantu dan dilindungi, dengan mengembangkan suatu komplek sistem upacara pemujaan yang dahulu di kenal sebagi ne’empungan, atau ma’ambo atau masambo.
Dalam mitologi orang minahasa rupanya sistem kepercayaan dahulu mengenal banyak dewa, salah satu ialah dewa tertinggi. Dewa oleh penduduk disebut empung atau juga opo, dan dewa ang tertinggi  disebut opo wailan wangko. Dewa yang penting sesudah dewa tertinggi tersebut ialah karema. Opo wailan wangko, dianggap pencipta seluruh alam dan dunia segala osinya, yang dikenal manusia yang memujanya. Roh leluhur juga disebut opo, atau sering juga disebut dotu, yang pada masa hidupnya adalah seseorang yang dianggap sakti dan juga sebagai pahlawan. Ada kepercayaan bahwa opo-opo yang baik akan senantiasa menolong manusia , yang dianggap sebagi cucu mereka. Disamping itu ada juga opo-opo yang memberikan kekuatan sakti untuk hal-hal yang tidak baik seperti untuk mencuri, berjudi, dan ebagainya.
Adapun roh-roh leluhur yang menjadi opo itu, selain dari apa yang telah disebutkan diatas tadi yang semasa hidupnya dianggap orang sakti dan pahlawan , juga karena keahlian dan prestasi-prestasi mereka, kepercayaan bahwa ada bagian-bagian tubuh yang mempunyai kekuatan sakti ada juga pada orang minahasa, seperti rambut dan kuku. Gejala-gejala alam seperti gunung meletus , hujan lebat bersama petir yang terus menerus dianggap perwujudan akan amarah para dewa. Ucapan yang berupa sumpahan dan kutukan juga dikenal sebagai kata-kata yang mengakibatkan malapetaka.
Konsepsi jiwa bagi orang minahasa rupanya tidak tegas dibedakan dengan konsepsi roh. Konsepsi jiwa dan roh ini disebut kakatouan. Unsur kejiwan pada hidup manusian adalah gegenang(ingatan), pemendam(perasaan), dan keketer(kekuatan). Gegenang adalah unsur yang utama dalam jiwa . sedang roh
orang yang telah mati merupakan penjelmaan dari gegenang.kepercayaan orang minahasa roh-roh tersebut senantiasa dapat berhububgab dengan manusia. Orang yang mati akibat kecelakaan , atau akibat perbuatan jahat seseorang atau akibat bunuh diri disebut mati mata, rohnya akan sering menggangu orang-orang.
Pada saat sekarang , sesuai dengan aturan-aturan agama kristen, maka konsepsi dunia akhirat ialah sorga bagi yang selamat, serta neraka bagi yang berdosa dan yang tidak percaya. Tempat upacara-upacara pribumi keagamaan pribumi, seperti yang dilakukan sekarang ini, biuasanya dilakukan pada malam hari dirumah tona’as atau dirumah orang lain. Pada saat-saat tertentu yang dianggap penting upacara dapat dilakukan di watu pinabetengan, tempat mana secara mitologi adalah yang paling  keramat di minahasa.
Tokoh tradisiopnal yanga melakukan dan memimpin upacara-upacara keagamaan pribumi seperti apa ang dikenal dahulu ialah walian. Sekarang ini sebutan tona’as lebih banyak dipergunakan walian yang berfungsi sebagai mediun untuk mendapatkan dari opo-opo kekuatan sakti atau jimat yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Ia juga dapat berperan sebagai dukun untuk mengobati orang-orang sakit dengan teknik-teknik tradisional yang disebut makatana. 
Dalam proses pembentukan sinkretisme unsur-unsur religi pribumi yang tidak ditinggalkan telah mengalami penyesuaian maupun transformasi mkna sehinggga  persepsi orang minahasa mengenal unsur-unsur religi ini tidak
                                                                                                                                15
bertentangan dengan agama kristen. Perubahan makna opo wailan wangko sebagai konsep pribumi dewa tertinggi menjadi Tuhan Allah telah lama dilakukan semenjak kristen menjadi agama umum dalam masyarakat. Perilaku agama pada orang minahasa  tergantung pada orientasi penilaian apa yang dipakai seseorang, apakah emic atau etic. Orientasi seorang pendeta minahasa  atau seorang anggota  gereja pantekosta yang saleh sangat berbeda dari seorang dukun minahasa atau seorang “abangan” dari suatau gereja tertentu.  Kebudayaan minahasa yang secara mendalam telah mengalami perubahan melalui jalur-jalur kolonialisme , pendidikan formal , dan kristenisasi , maupun jalur-jalur kontak atau difusi budaya lainnya.


G.   ORIENTASI KOGNITIF DAN MASALAH KEMAJUAN
Komponen-komponen kognitif pengetahuan dan kepercayaan bewujud sebagai premis-premis moral dan nilai yang membentuk dan mengatur perilaku anggota-anggota masyarakat yang bersangkutan. Merupakan patokan dalam menilai apakah suatu tindaka seseorang adalah penyimpangan atau tidak.
Sam ratulanggi telah menonjolkan kembali suatau orientasi nilai budaya minahasa yang rupanya dibenarkan oleh  penulis-penulis dan kalangan cendekiawan orang minahasa , yaitu konsepsi si tou timou tumou tou, yang artinya seorang manusia menjadi manusia dalam peranannya menghidukan manusia lain. Manusia harus dapat mengembangkan potensi atau kualitasnya  untuk dapat mempunyai arti atau peranan dalam masyarakat. Inilah akar motivasi maju dari orang minahasa.
Premis budaya ini dapat dihubungkan azas kesamaan social sebagai manusia, yaitu bahwa semua orang memiliki hakdan kewajiban yang sama dalam memenuhi kebutuhan – kebutuhan dalam masyarakat.

                                                                                                                     16
Persepsi waktu dalam hidup, bagi orang minahasa makna kehidupan masa kini dan masa depan adalah sama penting. Kehidupan “masa kini” diartikan sebagai suatu fase kehidupan seseorang yan tidak terlepas dari peranannya dalam menjalankan pekerjaan mata pencaharian kehidupan tertentu dalamsuatu persepsi waktu tertentu.
Berkat yang dianggap berarti bagi kehidupan yang bersangkut dan dianggap jarang terjadi atau bukan peristiwa biasa, repatutnya dihargai engan mengadakan upacara syuykuran kepada Tuhan yang telah memberkati upaya atau yang telah memberikan berkat kepada yang bersangkutan. Bentuk upacara ini secara umum dikenal sebagai  pengucapan syukur, dijalankan dalam bentuk kumpulan atau evangelisasi (pertemuan dan pesta kerohanian).

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Minahasa merupakan salah satu suku yang mengutamakan persatuan. Luas tanah minahasa sekitar 6000 km2. Menurut kepercayaan nenek moyang Minahasa masih mengenal banyak dewa dan makhluk halus lain.
Perekoniman di daerah Minahasa sekarang mengalami perkembangan di berbagai sarana, prasarana dan pranata ekonominya. Kegiatan bantu membantu di masyarakat Minahasa disebut mapalus dan sering diterapkan di masyarakatnya.

B.    SARAN
Manusia hidup dengan setiap budaya masing-masing. Oleh karena itu kita wajib melestarikannya dan bukan merusaknya. Tetap menjaga kelestarian budaya itu sendiri karena kita hidup tidak bias terpisah dari kebudayaan
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. 1995. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Djakarta: Djambatan
Adam, L.
            1976    Adat Istiadat Suku bangsa Minahasa. Jakarta : Bhratara
Adatrechtbundel XVII
            1913    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sulawesi Utara. Tahun 1982 – 1983. Manado.
Bappeda Tingkat II Minahasa
            1985    Monografi Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Minahasa. Tondano
Kantor Statistik Kabupaten Minahasa dan Kota Administratif Bitung
            1984    sensus Pertanian 1983: Data Hasil Pendaftaran Rumah Tangga Tondano

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 Welcome To My World. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates